Serejang

se·re·jang (adv) waktu yg sangat singkat; sekilas. Seperti pikiran manusia, seperti pikiranku. Melompat, menerjang, benderang, lalu hilang. Di sini, aku berusaha menangkap dan menatanya.

Captain’s Log: What is Art?

This is going to be a continuous series of writing, along with  my #characterdevelopment. I’m hoping to see how my perspective of the meaning of art changes over time.

Long, long time ago, there were things that spontaneously popped out in my mind everytime i hear the word “art” : artwork, self-thought, self-expression, social critism stuff, self-reflection, humanity, paintings, scluptures, literatures, music, performances, creativity, eccentric people,  long haired and bearded guy, feelings, women in funny hairstyle and turtlenecks.

Lately, i just discovered that art is way more than that . The world of art is a whole new place where you don’t even have to define what art is because there are things that more important to do with it; like what can we do with art in our dialy life, how art is really inseparable with our life as a human being, whats the motive behind an artworks and how people interpret artworks differently. Art involves how we see things, how we interact with our surrounding and how we appreciate every single phenomenon that we find. Art, is about projecting whats inside your head and heart with creation.

Well done, starting a series of writing about “what is art” with a statement  “we dont even have to define it”. But hey, who knows what will happened right?

 

 

Lets be productive in 2018!

Advertisements

Wut?

Catatan awal: tulisan ini ditulis dengan perasaan getek (Sunda) dari awal sampai akhir.

Mungkin karena saya tidak begitu ekspresif tentang hal-hal seperti ini. Mungkin karena saya belum pernah pacaran. Mungkin karena perasaan semacam ini baru bisa saya rasakan terhadap Tuhan, orang tua, keluarga, teman-teman, orang-orang berharga di sekitar saya (salam untuk adik-adik rumah belajar di Cicaheum! :3 ) dan alam semesta. Mereka-mereka ini tidak perlu saya beritahu secara lisan. Mereka bisa langsung merasakan tindakannya dari saya, atau mungkin kalimatnya bersifat tersirat. Perasaan saya terhadap mereka-mereka ini juga terjadi dengan cara yang mulus dan tidak dramatis sama sekali. Mungkin karena itu, saya jadi sangat canggung berbicara tentang perasaan yang satu ini.

Cinta.

Apa ia punya definisi?

Mungkin ada. KBBI pasti punya. Setiap orang pasti punya maknanya secara subjektif. Ada banyak pengertiannya. Namun, cinta yang dibahas di sini dikerucutkan menjadi cinta terhadap potential life partner. Karena cinta yang satu inilah yang paling sering menimbulkan drama di hidup seseorang, penuh polemik dan paling heboh lah pokoknya. Karena cinta yang satu inilah yang biasanya paling sulit untuk diungkapkan, namun urgensinya sangat besar untuk diungkapkan. Untuk itu, saya diminta untuk menanyakan kepada rekan-rekan saya tentang dua hal seputar cinta: apakah ia pernah jatuh cinta? Apa yang menghambat seseorang dalam menyatakan perasaannya kepada si target?

Dari responden yang telah saya wawancarai secara eksklusif, semuanya menjawab bahwa mereka pernah jatuh cinta. Bagi mereka, cinta adalah perasaan peduli, ingin membuat seseorang bahagia, respek dan menginginkan orang yang bersangkutan membalas perasaannya juga. Biasanya, cinta ditandai dengan gejala berupa canggung / jantung berdebar-debar saat berada di sekitar target.

Lalu mengapa orang-orang terhambat dalam menyatakan cinta? Hipotesis saya: malu dan/atau takut ditolak. Namun ternyata, responden saya menjawab hal yang lain. secara umum, hal yang menghambat mereka dalam menyatakan cinta adalah kesiapan diri. Mereka ingin siap baik secara fisik, mental maupun materi sebelum akhirnya membulatkan tekad untuk menyatakan perasaan mereka kepada si target. Hal ini dilakukan karena penghargaan mereka yang tinggi terhadap si target, karena mereka ingin orang yang mendampingi si target ini memiliki kompetensi yang layak lah untuk jadi life partner. Mereka mungkin tipe orang orang yang cenderung menyiapkan dan melaksanakan aksi daripada banyak memberikan janji di awal. Mungkin.

Tapi alasan mereka membuat saya berpikir: apakah semua persiapan ini harus dilakukan dalam total diam? Bagaimana kalau ada orang lain yang lebih dulu menyatakan kepada si target karena mereka lebih dulu merasa siap atau memang dasarnya orang ini lebih nekat? Apa bisa kedua pihak sama sama tau terlebih dahulu, lalu menyiapkan diri bersama sama? Well, sampai sekarang saya belum tau jawabannya apa. Diri di masa depan, tolong jawab, ya! 🙂

 

 

POV

“While Salvador Alende’s democratic regima was being over-thrown by Chillean military in 1973, a cameraman was filming the drama on the street. In his footage, we see an ordinary soldier on a truck to turn the glower, to aim his riffle towards us and to fire. The film jerks but continues. A second shot and the scene falls to the side walk. The unfortunate journalist felt himself isolated from the events because he was peering through a lens. Many scientists consider themselves to be part of such a ‘Fourth Estates’, dispassionate observers as the world unfolds, though few suffer deadly physical damage”

– Stephen Drurry, “Stepping Stones”

LATELY

i am in the mood of throwing things i hold in my hand

literally and figuratively.

Minggu Pagi Musim Hujan

orchid

Nujabes – Imaginary Folklore

Shugo Tokumaru – Suisha

Sigur Ros – Hoppipolla

London Grammar – Hey Now

Banda Neira – Hujan di Mimpi

Bombay Bicycle Club – Luna (BBC Radio 1 Live Lounge)

Kings of Convenience – Mrs Cold

Painting: Orchid by Yevgenia Watts

I’m in love with this song

Ka – ta

Dalam sebuah potongan koran yang tercecer, aku melihat kata-kata yang seperti utopia; terasa asing namun juga  begitu dekat, sangat dekat seperti antarkarbon dalam berlian. Kata-kata itu masuk ke dalam kepalaku, datang bagaikan angin yang kencang. Menyelinap ke semua sudut, mengangkat yang menapak, membuka yang tertutup, menguak yang terlupa dan berlalu.

Kata – kata datang kepadaku, berbaris begitu familiarnya. Sekilas terlihat biasa, yang aku lihat di hari yang biasa. Sekumpulan lekukan garis buatan manusia yang ribuan tahun usianya berderet-deret dengan gaya yang seragam, berderet rapi atas bantuan sesuatu yang bernama aneh: perangkat lunak untuk memroses kata.

Aih, benda maya nan ajaib itu. Aku hampir muak dengan dia.

Hampir.

Kata – kata datang kepadaku, mereka begitu berbeda. Saat sebuah momen bernama baca menyapa, terkuaklah segalanya. Kata – kata yang datang kepadaku, binar dan ledaknya meriah bak supernova, namun juga tenang bagai magnolia di teras rumah sore hari. Begitu ilogikal, begitu manis, begitu hidup. Aku bisa melihat musim-musim berganti padanya, planet – planet berputar, remaja yang berkumpul dan tertawa, pembuat roti, dan karyawan Tata Usaha.

Kata – kata datang kepadaku. Ia mengajakku ke dunianya: imaji

Dalam potongan koran yang tercecer itu, aku melihatnya.

Kata-kata datang kepadaku

namanya Sastra.

Kanayakan Baru, 2014